
Judul : Blindness
Pengarang : Jose Saramago
Penerbit : Ufuk Press
Saya mendapatkan buku ini hasil dari tukar menukar dengan seorang teman di Goodreads. Membaca beberapa review mengenai buku ini, memutuskan saya untuk meminjamnya. Hmm.. sepertinya seru juga....
*****
Apa jadinya jika sebuah kota di landa oleh kebutaan massal ?? Kebutaan yang bukan pada umumnya. Karena biasanya orang buta merasakan kegelapan, tapi yang ini beda, para orang buta merasa dihadapan mereka terbentang kabut putih yang tebal dan berkilauan.
Kejadiannya sungguh mendadak. Seorang pengemudi mendapat serangan kebutaan saat ia sedang berada di lampu merah di dalam mobilnya. Seorang pencuri yang memanfaatkan si pemilik mobil tersebut, secara mendadak juga terserang kebutaan. Seorang dokter mata, sehabis ia praktek juga dilanda hal yang sama. Perempuan pelacur pun mengalami juga, saat ia selesai menerima 'tamu'nya.
Pemerintah kota setempat mengeluarkan ultimatum, bahwa kota diserang sebuah wabah penyakit kebutaan, bagi siapa saja yang mengalami hal tersebut diharapkan untuk berkumpul di suatu tempat yang sudah disiapkan oleh pemerintah guna menghambat penyebaran penyakit tersebut. Pelan-pelan lama-lama jumlah penderita kebutaan bertambah. Termasuk si dokter mata. Tetapi sang istri yang kasihan melihat suaminya buta, akhirnya pun ikut serta menemani si suami menuju tempat karantina, dengan dalih ia pun juga buta.
Akhirnya rombongan 'buta' tersebut sampai di sebuah tempat. Tempat tersebut adalah sebuah bangunan dengan banyak bangsal yang rupanya bekas rumah sakit jiwa. Istri dokter mata selalu memberikan gambaran apa saja kepada suaminya. Hingga akhirnya mereka ditempatkan di sebuah ruangan dengan beberapa tempat tidur.
Berbagai macam aturan diperintahkan oleh para penjaga bangsal tersebut. Mereka adalah tentara-tentara yang di sewa oleh pemerintah untuk menjaga dengan ketat agar wabah kebutaan tidak menyebar.
Hari terus berlalu, semakin lama peraturan yang telah ada dirasakan mulai 'aneh'. Para pengidap penyakit kebutaan ini secara tidak langsung mereka diperlakukan seperti binatang. Mereka dijanjikan akan diperiksa oleh dokter mata yang akan didatangkan oleh pemerintah, namun hal itu tidak kunjung datang. Pembagian jatah makanan yang semakin berkurang, sarana umum yang tidak terawat dan berbau busuk, hingga mencapai puncaknya ketika jumlah penderita kebutaan semakin bertambah. Dimana, ternyata gedung sudah tidak dapat menampung orang lagi. Para tentara mulai menembaki mereka pada saat pengambilan jatah makanan, dengan alasan dengan menembaki mereka, maka pendatang baru bisa mendapatkan ruangan. Hingga suatu saat akhirnya perpecahan pun tiba...
******
Membaca buku ini, jelas membuat saya bergidik ngeri membayangkan hal tersebut. Buku ini jelaslah menggambarkan sebuah sistem pemerintahan yang sakit,serta krisis kemanusiaan yang terjadi. Dan berhasil ditulis dengan baik oleh sang pengarang.
Pengarang : Jose Saramago
Penerbit : Ufuk Press
Saya mendapatkan buku ini hasil dari tukar menukar dengan seorang teman di Goodreads. Membaca beberapa review mengenai buku ini, memutuskan saya untuk meminjamnya. Hmm.. sepertinya seru juga....
*****
Apa jadinya jika sebuah kota di landa oleh kebutaan massal ?? Kebutaan yang bukan pada umumnya. Karena biasanya orang buta merasakan kegelapan, tapi yang ini beda, para orang buta merasa dihadapan mereka terbentang kabut putih yang tebal dan berkilauan.
Kejadiannya sungguh mendadak. Seorang pengemudi mendapat serangan kebutaan saat ia sedang berada di lampu merah di dalam mobilnya. Seorang pencuri yang memanfaatkan si pemilik mobil tersebut, secara mendadak juga terserang kebutaan. Seorang dokter mata, sehabis ia praktek juga dilanda hal yang sama. Perempuan pelacur pun mengalami juga, saat ia selesai menerima 'tamu'nya.
Pemerintah kota setempat mengeluarkan ultimatum, bahwa kota diserang sebuah wabah penyakit kebutaan, bagi siapa saja yang mengalami hal tersebut diharapkan untuk berkumpul di suatu tempat yang sudah disiapkan oleh pemerintah guna menghambat penyebaran penyakit tersebut. Pelan-pelan lama-lama jumlah penderita kebutaan bertambah. Termasuk si dokter mata. Tetapi sang istri yang kasihan melihat suaminya buta, akhirnya pun ikut serta menemani si suami menuju tempat karantina, dengan dalih ia pun juga buta.
Akhirnya rombongan 'buta' tersebut sampai di sebuah tempat. Tempat tersebut adalah sebuah bangunan dengan banyak bangsal yang rupanya bekas rumah sakit jiwa. Istri dokter mata selalu memberikan gambaran apa saja kepada suaminya. Hingga akhirnya mereka ditempatkan di sebuah ruangan dengan beberapa tempat tidur.
Berbagai macam aturan diperintahkan oleh para penjaga bangsal tersebut. Mereka adalah tentara-tentara yang di sewa oleh pemerintah untuk menjaga dengan ketat agar wabah kebutaan tidak menyebar.
Hari terus berlalu, semakin lama peraturan yang telah ada dirasakan mulai 'aneh'. Para pengidap penyakit kebutaan ini secara tidak langsung mereka diperlakukan seperti binatang. Mereka dijanjikan akan diperiksa oleh dokter mata yang akan didatangkan oleh pemerintah, namun hal itu tidak kunjung datang. Pembagian jatah makanan yang semakin berkurang, sarana umum yang tidak terawat dan berbau busuk, hingga mencapai puncaknya ketika jumlah penderita kebutaan semakin bertambah. Dimana, ternyata gedung sudah tidak dapat menampung orang lagi. Para tentara mulai menembaki mereka pada saat pengambilan jatah makanan, dengan alasan dengan menembaki mereka, maka pendatang baru bisa mendapatkan ruangan. Hingga suatu saat akhirnya perpecahan pun tiba...
******
Membaca buku ini, jelas membuat saya bergidik ngeri membayangkan hal tersebut. Buku ini jelaslah menggambarkan sebuah sistem pemerintahan yang sakit,serta krisis kemanusiaan yang terjadi. Dan berhasil ditulis dengan baik oleh sang pengarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar